Berkat MBG, Penyandang Disabilitas di Sukoharjo Punya Penghasilan dan Bantu Penuhi Kebutuhan Keluarga
- Redaksi
- Sabtu, 14 Maret 2026 23:03
- 31 Lihat
- Nasional
Sukoharjo, Media Budaya Indonesia. Com - Saat aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum dimulai, Rohmat Riyadi (24) dengan teliti menyapu setiap sudut ruangan fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (14/3/2026).
Lengkap menggunakan masker, penutup kepala, dan sarung tangan, ia juga memastikan lantai toilet bersih sebelum digunakan oleh para pegawai SPPG yang hampir setiap hari menyiapkan makanan bergizi bagi anak-anak penerima program.
Rohmat, yang berasal dari Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, memiliki gangguan penglihatan pada mata kiri yang membuat penglihatannya rabun. Ia juga mengalami disabilitas pada kaki kiri akibat polio sejak kecil, yang membuat langkahnya tidak sepenuhnya tegak saat berjalan.
Namun kondisi tersebut tidak membuat Rohmat terpinggirkan. Di SPPG Yayasan Permata Mitra Keluarga, ia kini bekerja sebagai petugas kebersihan (cleaning service), membantu menjaga kebersihan fasilitas dapur yang menjadi bagian dari program MBG.
Bagi Rohmat, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan. Lebih dari itu, kesempatan bekerja di dapur MBG memberinya ruang untuk tetap berdaya dan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga mampu bekerja tanpa diskriminasi.
“Teman-teman di sini baik semua. Mereka memperlakukan saya sama, tidak dibedakan,” ujar Rohmat, seperti dikutip Sabtu (14/3).
Rohmat, yang sebelumnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pabrik mebel, mengaku sangat bersyukur atas kesempatan yang kini ia dapatkan. Jika suatu saat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, ia mengaku ingin menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung.
“Terima kasih untuk Pak Prabowo. Kaki saya sakit karena polio, saya disabilitas, mata saya juga agak rabun. Tapi saya bisa bekerja di dapur MBG dan bisa membantu orang tua serta memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Rohmat.
Ketika ditanya mengenai harapannya dari pekerjaan tersebut, pemuda berusia 24 tahun ini mengatakan ingin menggunakan penghasilannya untuk membahagiakan orang tua dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Rohmat juga berharap dapur MBG dapat terus memberikan kesempatan kerja tanpa diskriminasi, sehingga penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya memiliki peluang yang sama untuk bekerja.
“Harapan saya dapur MBG bisa terus berjalan dan disabilitas seperti saya bisa bekerja di dapur MBG,” pungkasnya.
Cerita Rohmat menunjukkan bahwa Program MBG tidak hanya bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat secara lebih luas.
Melalui operasional dapur SPPG di berbagai daerah, program ini turut menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat.